Arsip untuk kocek

BISA TETAP LIBURAN SAAT EKONOMI SULIT

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…hore!hore!hore!….

Senangnya, liburan sekolah telah tiba. Bagi anak, setelah berbulan-bulan berkutat dengan berbagai PR, tugas dan tumpukan buku, inilah saatnya bermain dan menyegarkan otak, sebelum tahun ajaran baru dimulai. Bagi orangtua, kesibukan mereka saban hari di kantor bakal mereka tebus dengan mengajak anak-anaknya liburan.

Berhubung tahun ini BBM naik yang disertai kenaikan harga pangan dan harga-harga lainnya, lantas liburan harus dibatalkan? Baca entri selengkapnya »

Komentar (4) »

Selamat Dari Kenaikan Harga

Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang langsung diikuti kenaikan harga bahan pangan semakin menyulitkan ekonomi banyak orang. Disaat harga-harga naik, penghasilan kita mungkin tidak naik. Sebab efek kenaikan BBM membuat kondisi perusahaan tempat kita bekerja juga sulit. Kalau sudah begini, apa yang mungkin bisa kita lakukan? sebagian orang mungkin berfikir untuk mencari tambahan penghasilan sebagi jalan keluarnya. Anggapan ini tidaklah salah. Tapi, apa itu satu-satunya pilihan? Apalagi harus diakui mendapatkan penghasilan tambahan sekarang ini tidaklah mudah.

Sepertinya yang paling utama adalah bagaimana kita melakukan pembenahan keuangan internal terlebih dahulu, karena sia-sia saja menambah penghasilan jika tidak ada perubahan pola penggunaannya. Baca entri selengkapnya »

Komentar (7) »

Empat Kesalahan Orang Berutang

Menurut Eko Endarto, Perencana Keuangan Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan, bahwa banyaknya tingkat kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) dibeberapa bank, khususnya untuk kredit konsumtif, terus meningkat. Utang yang bermasalah ini bukan disebabkan oleh kondisi ekonomi saja (inflasi serta efek resesi yang terjadi di Amerika Serikat) namun karena individu peminjamnya juga yang salah. Orang ini gagal mengelola utang.

Utang boleh, asal dengan perhitungan
Kenapa ada orang yang gagal dan ada juga berhasil dalam berhutang?. Beberapa kesalahan orang dalam berhutang :

Salah memilih produk
Orang kerap salah memilih produk. Seperti juga poduk yang memberikan hasil, produk utang juga memiliki banyak jenis. Ada utang untuk pembiayaan modal usaha, pembiayaan rumah, pembiayaan profesi, kendaraan, dan sebagainya. Banyak orang berutang hanya melihat berapa besar dana yang bisa diperoleh serta seberapa mudahnya utang tersebut cair. Padahal, seharusnya mereka ingat, makin mudah utang itu cair, makin tinggi resikonya.
Mengambil utang menurut kebutuhannya bisa meminimalkan resiko kegagalan mengelola utang lantaran kita menggunakan sebagaimana seharusnya.

Salah menggunakan utang
Utang dapat diartikan sebagai penggunaan hak sebelum waktunya. Kredit dapat juga diartikan sebagai pembayaran yang ditunda. Dengan begitu, utang dan kredit diciptakan untuk membantu seseorang memperoleh hak sebelum waktunya dan melunasi kemudian.
Pada dasarnya, kita boleh berutang dengan dua syarat utama. Yakni, memiliki dana untuk membayarnya, dan yakin ada sumber dana yang masuk di kemudian hari untuk membayarnya. Kalau itu terpenuhi, kecil kemungkinan terjadi kegagalan melunasi utang.

Salah memilih tempat berutang
Utang yang cenderung gagal atau macet adalah utang yang sifatnya konsumtif. Utang itu umumnya berbunga tinggi dan berjangka waktu pendek. Artinya kalau kita gagal mengelolanya, jangan harap utang itu bisa lunas.
Sangat banyak orang yang bermasalah di utangnya, kemudian berutang kembali untuk menyelesaikannya. Hal itu diperbolehkan. Masalahnya, mereka terkadang memilih tempat berutang yang salah. Beberapa orang menyelesaikan utangnya dengan meminjam dari tempat yang sama. Artinya, mengambil uang tunai untuk melunasi utangnya. Cara ini tidak menyelesaikan perkara. Tarikan tunai umumnya memungut bunga yang lebih mahal ketimbang kredit belanja barang.

Salah mengelola utang
Terkadang, orang tak sadar bahwa persoalan utang terjadi karena salah mengelola utang itu. Aturlah dengan baik pembayaran utangnya. Ada baiknya meletakkan tanggal pembayaran utang tidak jauh dari tanggal gajian. Sesaat setelah menerima gaji, bisa segera membayar kewajiban itu.

Eko Endarto mengatakan pula bahwa memutuskan untuk mengambil utang bukanlah kesalahan, tapi mengambil utang tanpa perhitungan akan menjerumuskan.

ngutang..enggak…ngutang…enggak…ngutang??..enggak??…

Komentar (4) »

Hayo, Kebablasan Pake Kartu Kredit Ya?

Buat gw, krisis utang kartu kredit sungguh menakutkan. Mungkin ini salah satu dampak dari begitu mudahnya bank dan institusi menawarkan fasilitas kredit tanpa dibarengi pengertian tentang kredit untuk masyarakat. Begitu banyak orang-orang yang kebablasan menggunakan kartu kredit termasuk sering terlontar dari mulut teman-teman. Lumayan ngeri juga ngedengernya. Jadi kalau hal ini terjadi pada teman-teman gw yang mungkin hanya contoh kecil aja, siapa yg musti disalahkan?

Kalau melihat ke dalam sistemnya sih memang ada beberapa yg menjadi kelemahan sistem di Indonesia, yaitu :

Pertama, negara kita belum dilengkapi dengan sistem kredit yang memadai. Belum ada sistem credit scoring yg bisa mengkatagorikan antara peminjam sehat dengan peminjam tidak sehat. Sistem Informasi Debitur (SID) yg ada saat ini baru bisa mengecek kredit apa saja, dimana saja, dengan status terakhir. Memang sistem ini terus didevelop namun sungguh memerlukan cukup waktu sedangkan pemberian pinjaman terus berjalan tak terbendung.

Kedua, para penerbit kartu kredit bersikap masa bodoh. Yang penting persyaratan internal mereka terpenuhi. Selama SID menunjukkan status terakhir dalam keadaan baik, pinjaman atau kartu kredit lain akan mereka kabulkan. Seseorang dapat mengajukan aplikasi dan mendapatkan kartu kredit dari 20 penerbit kartu kredit yang berbeda.

Ketiga, cara memasarkan kartu kredit yang tidak etis. Kode responsible lending serasa tidak ada artinya. Cara mereka menawarkan kartu kredit semakin merendahkan intelegensia masyarakat. Coba saja perhatikan, terkadang mereka menawarkannya dengan sebutan kartu cicilan bukan kartu kredit dengan bunga kecil dan belanja bulanan yg dapat dicicil. Padahal kalau ditelaah kembali, kartu cicilan = kartu kredit. Pembodohan memang.

Dengan kelemahan-kelamahan sistem yang ada di negara kita tersebut, lantas kita menyalahkan sistem atas kebablasannya penggunaan kartu kredit? Kayaknya alasan yang tidak masuk akal deh. Semuanya kembali lagi ke pribadi masing-masing. Kalau boleh bertanya, memang ada yang memaksa untuk menandatangani aplikasi pengajuan kartu kredit? Memang ada yang memaksa untuk terus menggesek kartu kredit? Memang ada yang menyuruh untuk tidak menyisihkan gaji atau berinvestasi? Kayaknya semua jawabannya adalah TIDAK, dan diri sendirilah yang berperan. Jadi kalau sekarang kondisi keuangan jadi morat-marit karena utang, yah..salahkan diri sendiri…hehe..

Kayaknya dengan memulai introspeksi diri dalam menggunakan kartu kredit merupakan langkah awal yang tepat. Memikirkan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan utama dan kebutuhan tambahan serta menanamkan dalam diri bahwa kartu kredit bukanlah sebagai uang tambahan tp hanya merupakan alat pembayaran saja sepertinya dapat mengerem penggunaan kartu kredit yang selama ini kebablasan.

Asal dimanage kayaknya kartu kredit bukan lah hal yang menakutkan untuk dimiliki. Bukankah begitu… :D

Komentar (13) »

MEMBANGUN MENTAL JADI ORANG KAYA

Penghasilan udah tinggi, tapi kok masih kurang sih…??? kita sudah jadi orang kaya blom ya..???

Ternyata, “berpenghasilan tinggi” tidak sama dengan “jadi kaya”. (nah lho…!!)

Orang yang berpenghasilan tinggi belum tentu kaya.
Katanya, definisi kaya (rich) adalah seberapa banyak yang bisa kita sisihkan atau simpan untuk membangun aset produktif dari gaji atau penghasilan kita. Sedangkan arti “orang berpenghasilan tinggi” adalah aliran uang masuk orang tersebut, setiap bulannya besar.
Kaya berkaitan dengan seberapa banyak aset (produktif) yang bisa kita bangun dari penghasilan atau gaji kita sebagai karyawan. Sedangkan berpenghasilan tinggi cuma menggambarkan cash-in-flow. Berpenghasilan tinggi tidak menjamin ornag menjadi kaya. Kalau cara hidupnya boros-yakni lebih mementingkan keinginan daripada memenuhi kebutuhan-maka neracanya di akhir bulan akan selalu besar pasak daripada tiang. Baca entri selengkapnya »

Tiada komentar »

LIBURAN : SEMUA ORANG PERLU, DEH!

Liburan baru saja selesai. Sekarang kembali ke realitas.
Biasanya kalau udah back to reality, gw baru deh ngerasa kalau udah menghabiskan semua dana yang ada untuk liburan, bahkan ga jarang gw deg-degan mikirin tagihan kartu kredit bulan depan..hehe. Tapi sebenernya sih bukan cuma gw aja mengalami hal ini, ada beberapa temen yang menghabiskan dana berlebihan demi liburan tahunan. Sampai-sampai tagihan kartu kreditnya membengkak dan walhasil mereka jadi tahanan kota di rumahnya karena tidak punya uang lagi..whualahhh….

Biasanya kalau udah datang liburan, suami suka tanya “kita mo liburan nih, uang tinggal berapa mah?” dan gw selalu jawab “tenang2, ada kok, uang utama ga akan ke utik-utik deh” tapi setelah liburan abis ya kejadian terulang kembali, uang utama kepake buat liburan. Kalau udah gini suami mulai berpetuah deh, dan untuk menutupi rasa bersalah, gw cm bisa nyengir kuda..huehhe.. Baca entri selengkapnya »

Tiada komentar »

”Cari Utanglah Sebelum Utang Itu Dilarang”

Ungkapan “Senyumlah sebelum senyum itu dilarang” kayaknya sudah familiar deh ditelinga kita, tp kalu membaca atau mendengan ungkapan “Cari utanglah Sebelum Utang Itu Dilarang” pasti kita berpikir ”kok bisa gitu???”. Wajar saja kalau komentar pertama seperti itu, karena memang sampai saat ini ada beberapa orang yang menganggap utang sebagai hal yang negatif, akan menyusahkan hidup kita dan jangan sekali-kali berutang karena nanti akan terjebak didalamnya. Mungkin seperti itu yang sering gw denger tentang utang.

Gw sengaja posting ini biar kita bisa melihat sisi lain dari utang. Ide ini muncul ketika gw baca artikel di Tabloid Kontan. Komentar gw pertama baca sih gw ngerasa artikel ini menyuruh kita untuk berhutang dan untuk yang sudah terlanjur berhutang, artikel ini memberikan suatu pembelaan atas alasan berhutang. Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »