MENCIPTAKAN GENERASI SNOB

Generasi snob? Ya..generasi yang suka membanggakan diri. Generasi yang biasanya berasal dari anak-anak golongan menengah yang melulu ingin hidup dengan gaya hidup tinggi. Mengapa bisa timbul generasi ini???

Tanpa kita sadari, kita, para orang tua terkadang lupa untuk mendidik anak berkenalan dengan uang. Kadang saking cintanya pada anak kita lalai mengajarkan makna uang. Demi melihat anak gembira, kita rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya dan lupa konsekuensi panjang setelahnya. Dan tanpa kita sadari akhirnya kita menciptakan generasi snob.

Coba kita perhatikan bagaimana anak-anak kita menceritakan tentang rekreasi dan makanan kesenangannya kepada teman sebayanya. Cukup mengejutkan, ternyata mereka fasih membahas liburan ke Bali, Singapura dan Hongkong!. Saat membicarakan makanan dan minuman kesukaan pun mereka bisa menyebutkan makanan pizza, sushi, fish and chips dan milkshake. Darimana mereka mendapatkan daftar itu, dari kita sebagai orang tua, tentu saja.

Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kebiasaan orang tua biasanya dicontoh oleh anak. Saya sadar betul bahwa kita sangat suka kemudahan, kita menjadi generasi “serba hambur”. Karena sudah merasa bekerja keras, kita tentunya ingin menikmati hasilnya. Makan di luar rumah dan liburan mahal tak ragu kita jalani. Tanpa kita sadari, anak-anakpun terlibat dalam gaya hidup ini. Padahal kalau kita telaah, generasi sebelum kita adalah generasi penabung. Ciri menabung hampir punah digenerasi kita. Maka yang perlu kita khawatirkan adalah generasi berikut yang mencontoh sifat hambur. Jangan sampai mereka menjadi para snob kecil.

Berikut tips dari Ligwina poerwohananto, CEO Quantum Magna Financial.

CARI TITIK SEIMBANG

Apakah tidak boleh menikmati uang? Tentu saja boleh, tapi sudah waktunya mencari titik seimbang. Seorang anak yang terus dicekoki mall ber-AC akan kesulitan makan di warung. Jika khawatir anak terlalu kecil makan di warung, paling tidak kita perlu mengimbanginya dengan variasi tempat makanan yang ada di mall. Restoran mahal banyak, tapi pilihan makanan di foodcourt juga banyak. Variasi dari berbagai pengalaman akan membuat anak-anak kita terhindar dari kemungkinan jadi seorang snob.

Titik seimbang ini juga penting ketika mencari tempat berlibur.

MEMBIAYAI LIFESTYLE

Point terakhir ini cukup penting. Jika kita memiliki gaya hidup mahal, tentu ada dana yang harus disiapkan untuk membiayai kehidupan ini. Mungkin kita sudah mampu membiayai hidup dengan penuh gaya. Tetapi si anak ini tidak mengerti bahwa kita memang pantas menikmati lifestyle karena telah bekerja keras untuk mencapai posisi itu sekarang.

2 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    juliach berkata,

    Setiap liburan, aku punya target untuk berlibur ke luar kota atau luar negeri bersama anak-anakku itu pasti. Tetapi itu tak berarti kita masuk generasi SNOB. Karna berlibur ke suatu tempat itu termasuk dalam investasi kehidupan. Di dalam liburan itu, banyak sekali yang kita lakukan: photografi, kunjungan ke tempat bersejarah atau natural, mengenal geographi, membaca peta, bahkan praktek matematika.

    Di sini aku mempraktekan matematika ke pada anakku yang paling besar, Ines, 9th. Bagaimana kita harus merencanakan perjalanan itu jauh-jauh hari, yang berarti harus berhemat dan menabung, merencanakan budget, setiba di tempat kita juga harus memillih pergi ke resto mana yang murah, enak dan bersih atau kita belanja makanan di supermarket lalu berpiknik di tanam.

    Selain itu kami mempraktekkan bahasa asing yang telah kami pelajari, seperti di Itali kami berbahasa itali, begitupun di Barcelona: Ines kebetulan kursus bahasa spanyol.

    Sekarang Ines ada di New York bersama sahabatku yang tidak bisa berbahasa Inggris, mereka akan menyuruh Ines sebagai penterjemah mereka.

    Ini termasuk modal, siapa tahu dia berubah cita-citanya dari dokter menjadi guide ato ke komersial.

    Salam kenal!


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda