Bermula dari Film Ayat-Ayat Cinta……
Akhirnya bisa ngeblog jg setelah sekian lama disibukkan dengan pekerjaannnnn…….
Kayaknya ngeblog tema film Ayat-ayat Cinta dah basi kali ya..hihiii… tapi suka-suka ah..
Jadi, Senin kemarin akhirnya gw ma suami bisa ke bioskop juga, setelah beberapa minggu kita rescedule terus acara nonton di bioskop. Alasannya karena macam-macam deh..gw pulang telat, gantian suami yang pulang telat, Digi ingin dijemput, gw sempet sakit segala, suasana hati yang tidak mendukung lha..pokonya mo nonton aja ampe repot.
Tapi emang ada unsur kesengajaannya juga nonton AAC ini pas orang-orang udah kehilangan momennya. disamping ga mau ngantri, ingin denger kesan dan pesan para penontonnya dulu termasuk pak Presiden SBY..yang kayaknya seneng kali ya karena ada fotonya terpampang di salah satu adegan..hihi, juga karena gw ingin baca novelnya dulu.
Mulanya sih suami ngasih pendapat untuk ga baca novelnya dulu dengan alasan nanti ga seru pas nontonnya karena udah tau ceritanya, ga objektif lah dalam menilai filmnya, dsb. Secara gw sendiri punya pendapat bahwa dengan baca novelnya kita jadi tahu kualitas film tersebut karena ini adalah novel yang di-film-kan bukan film-yang dinovelkan sok bener. Tapi suami tetep ngotot jangan baca novelnya dahulu karena sensasi filmnya bisa jadi hilang dan kita jadi seperti di-guide ketika mengikuti alur ceritanya. Tapi akhirnya suami baca novelnya juga deh dengan alasan “nontonnya direschedule mulu seh” hihiii.
Dan emang bener sih, ketika selesai nonton suami sedikit kecewa karena film tsb ada yang melenceng dari novelnya. Dia mengeluh “andai ga baca dulu novelnya pasti deh ga tahu bahwa filmnya ada yang melenceng dan bener2 menikmati tuh film…” hehehe kasian. Sedangkan gw sih asik-asik aja soalnya sebenarnya alasan utama gw baca novelnya dulu tuh lebih dikarenakan gw ga mau nangis..hehe…meskipun akhirnya agak terharu juga ketika adegan Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria dan ketika Madam Nahed (Ibu Maria) mencium tangan Aisha sebagai tanda terima kasih dan dukungan musiknya. Sedangkan yang lainnya sih biasa aja, apalagi pemeran pembantunya kok pada kaku-kaku..hihi..ini menurut gw lho.
Terinspirasi dari adegan film tsb yang menceritakan beberapa perempuan yang patah hati akibat cinta menjadi bahan diskusi deh saat perjalanan pulang. Dan dari situ kami jadi inget, masa-masa naksir seseorang, masa-masa penolakan juga, masa ketika IPK jatuh hanya karena patah hati… masa-masa bersama tanpa komitmen untuk pacaran sampai akhirnya memutuskan untuk pacaran dan menikah setelah 6 tahun pacaran..hihii..emang bukan waktu yang sebentar tapi buat kami sangat cukup untuk memutuskan menikah.
Terkadang nonton film-film kayak ginian emang memberikan penyegaran juga..secara personal gw jadi tambah bersyukur bahwa gw telah mendapatkan cintanya suami, meskipun perjalanannya ga gampang tapi mengandung hikmah. Biasanya, apapun itu, semakin kita sukar mendapatkan, kita akan semakin menghargai keberadaannya, bukankah begitu??
Dan ada beberapa pertanyaan yang masih melekat dibenak ini :
• Ada ga sih cowok yang bener-bener kayak Fahri?? ![]()
• Emang cuma perempuan aja ya kalau kena penyakit cinta dan patah hati pastinya akan seperti itu (Maria yang merana, Nurul yang mencoba tegar dan Noura yang nekat)? Kalau lelaki gimana?
• Apakah pemberian ijin seorang istri untuk dipoligami oleh suaminya benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam si istri tersebut? Jujur deh kalau gw sebelum nonton udah wanti-wanti kalau Poligami??No way man…
• Buat para laki-laki nih, emang berpoligami itu enak bukan?? Pertanyaan stupid yach…
• Pertanyaan terakhir, di film itu paling enak menjadi peran siapa yach ?? lho kok pertanyaannya kayak gini….
Mungkin itu aja deh, mudah-mudahan film AAC menjadi pembelajaran buat yang nonton dan yang baca novelnya.. hehe..
Yoeszchxxx berkata,
April 10, 2008 @ 6:24 am
Maria :”fahri sudah mendapatkan sungai nilnya, dan itu bukan aku…..Kenapa aku tak dapat meraih mesirku…?…(dst)” Setiap laki2 ingin selalu menjadi “mesir” karna sungai nil tak akan pernah kering, poligami pilihan terbaik agar para “sungai nil” tidak meluap dan menyebabkan banjir bandang yg mengancam,sehingga para “mesir” selalu tenteram
chocovanilla berkata,
April 10, 2008 @ 7:49 am
Tokoh Fahri di novel: seperti malaikat!
Tokoh Fahri di film : manusia plus!
Ada gak laki-laki kayak gitu? Ada sih, tapi dikiiiiiiiiit kali, ya….. (kayaknya Guantengku kelak begitu deh, he…he…
PEran paling enak, hmm…. jadi mmm…gak ada yang enak ah?
hanggadamai berkata,
April 10, 2008 @ 4:07 pm
poligami itu enak ga ya

satu aja blom ad, apalagi poligami
Sang penulis berkata,
April 11, 2008 @ 2:15 am
suka baca juga kah
ratna berkata,
April 11, 2008 @ 8:33 am
@ Yoeszchxxx
wuahhh…menghayati sekali yach..
@ chocovanilla
guantengku eh guantengnya mba choco jadi Fahri…amin..hehe
Klo mba ga jadi siapa2 nih?//
@ hanggadamai
hiihiihi..si mas ini..makanya cari yang satu itu dulu..
@ Sang penulis
suka baca? tergantung bacaannya menarik atau ga :d
ayaelectro berkata,
April 14, 2008 @ 7:50 am
AAC=tema buat para blogger yang gak akan pernah habis di bahas.
ratna berkata,
April 15, 2008 @ 2:05 am
@ ayaelectro
hihii..jd begitu yach?
Y silak berkata,
April 24, 2008 @ 4:46 am
Biarin perempuan indonesia menderita batin karena tidak mendapatkan cinta seutuhnya karena cinta suami terbagi. poligami itu tidak melanggar hak asasi perempuan dengan dali agama???? renungkanlah hai hawa-hawa indonesia!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! film ini memberikan peluang lebih luas kepada lelaki indonesia untuk poligami dan katanya pejabat indonesia ada yang nangis setelah nonton film ini itu karena tidak bisa poligami lagi seperti tokoh yang di film itu.
purplenote berkata,
Mei 5, 2008 @ 2:08 pm
Fahri? semacam pria bodohkah dia? Enak banget ya jadi fahri..