Buat gw, krisis utang kartu kredit sungguh menakutkan. Mungkin ini salah satu dampak dari begitu mudahnya bank dan institusi menawarkan fasilitas kredit tanpa dibarengi pengertian tentang kredit untuk masyarakat. Begitu banyak orang-orang yang kebablasan menggunakan kartu kredit termasuk sering terlontar dari mulut teman-teman. Lumayan ngeri juga ngedengernya. Jadi kalau hal ini terjadi pada teman-teman gw yang mungkin hanya contoh kecil aja, siapa yg musti disalahkan?
Kalau melihat ke dalam sistemnya sih memang ada beberapa yg menjadi kelemahan sistem di Indonesia, yaitu :
Pertama, negara kita belum dilengkapi dengan sistem kredit yang memadai. Belum ada sistem credit scoring yg bisa mengkatagorikan antara peminjam sehat dengan peminjam tidak sehat. Sistem Informasi Debitur (SID) yg ada saat ini baru bisa mengecek kredit apa saja, dimana saja, dengan status terakhir. Memang sistem ini terus didevelop namun sungguh memerlukan cukup waktu sedangkan pemberian pinjaman terus berjalan tak terbendung.
Kedua, para penerbit kartu kredit bersikap masa bodoh. Yang penting persyaratan internal mereka terpenuhi. Selama SID menunjukkan status terakhir dalam keadaan baik, pinjaman atau kartu kredit lain akan mereka kabulkan. Seseorang dapat mengajukan aplikasi dan mendapatkan kartu kredit dari 20 penerbit kartu kredit yang berbeda.
Ketiga, cara memasarkan kartu kredit yang tidak etis. Kode responsible lending serasa tidak ada artinya. Cara mereka menawarkan kartu kredit semakin merendahkan intelegensia masyarakat. Coba saja perhatikan, terkadang mereka menawarkannya dengan sebutan kartu cicilan bukan kartu kredit dengan bunga kecil dan belanja bulanan yg dapat dicicil. Padahal kalau ditelaah kembali, kartu cicilan = kartu kredit. Pembodohan memang.
Dengan kelemahan-kelamahan sistem yang ada di negara kita tersebut, lantas kita menyalahkan sistem atas kebablasannya penggunaan kartu kredit? Kayaknya alasan yang tidak masuk akal deh. Semuanya kembali lagi ke pribadi masing-masing. Kalau boleh bertanya, memang ada yang memaksa untuk menandatangani aplikasi pengajuan kartu kredit? Memang ada yang memaksa untuk terus menggesek kartu kredit? Memang ada yang menyuruh untuk tidak menyisihkan gaji atau berinvestasi? Kayaknya semua jawabannya adalah TIDAK, dan diri sendirilah yang berperan. Jadi kalau sekarang kondisi keuangan jadi morat-marit karena utang, yah..salahkan diri sendiri…hehe..
Kayaknya dengan memulai introspeksi diri dalam menggunakan kartu kredit merupakan langkah awal yang tepat. Memikirkan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan utama dan kebutuhan tambahan serta menanamkan dalam diri bahwa kartu kredit bukanlah sebagai uang tambahan tp hanya merupakan alat pembayaran saja sepertinya dapat mengerem penggunaan kartu kredit yang selama ini kebablasan.
Asal dimanage kayaknya kartu kredit bukan lah hal yang menakutkan untuk dimiliki. Bukankah begitu…
kabarihari berkata,
Maret 27, 2008 @ 12:22 pm
Upsss saya salah satunya…
Untunglah semua sudah berakhir sekarang
chocovanilla berkata,
Maret 28, 2008 @ 3:18 am
Nuduh kok pas?
muchi berkata,
Maret 30, 2008 @ 5:26 am
hueheuhe
untungny sejak kejadian di awal kerja dulu
ga pernah terulang lagi
phew….
jebatan kapitalisme canggih
hanggadamai berkata,
Maret 30, 2008 @ 10:35 am
managenya harus yg bener ya
puputs berkata,
Maret 31, 2008 @ 2:21 am
kan emang gitu tujuan bank, biar kita boros ros ros
ratna berkata,
Maret 31, 2008 @ 3:56 am
@ kabarihari
wah, syukur deh klo udah terbebas..
@ chocovanilla
mba choco, aku ga sengaja lho nuduhnya…hehehe
@ muchi
ember….kapitalisme canggih…
@ hanggadamai
iya pak, siap..
@ puputs
hihiii..iya juga tuh..secara emang manusiawi klo sifat manusia itu ga ada puasnya..makanya di pake deh celah itu sama si Bank..
Tigis berkata,
Maret 31, 2008 @ 5:04 am
gue butuh kartu kredit semata2x biar bisa belanja di internet. Kalo belanja di supermarket cukup pake kartu debit. Mskpun ga ngutang pake kartu kredit, ada satu jenis ngutang yg jg bisa bikin pusing kepala. KPR
sigid berkata,
Maret 31, 2008 @ 7:29 am
Bener ndak sih, kalo data pribadi kita waktu membuat kartu kredit itu diperjual belikan ya.
Jadi meski hanya membuat kartu kredit di sebuah bank, kita sering dapat telepon dari beberapa bank lain yang menawarkan kartu kredit.
Kadang malah langsung telpon ke hp
nh18 berkata,
Maret 31, 2008 @ 9:34 am
Hmm cara yang paling mudah bagi saya ?
Tinggal CC di rumah ..
Ato titip di “menteri keuangan”
Itu pasti aman … !!!
(hehehe)
Advokat Listiana berkata,
April 1, 2008 @ 6:17 am
Makanya jangan pakai kartu kredit
Hedwig™ berkata,
April 1, 2008 @ 7:49 am
Kartu Kredit itu berguna sekali, tinggal pemakaian yang harus bijak. Saya mengalami dua kali ketika harus membawa anak-anak ke rumah sakit malem-malem. Kartu Kredit bermanfaat untuk membayar biaya rumah sakit, karena kebetulan bukan operator dari kartu asuransi yang saya punya.
Berikutnya, saat belanja bulanan, gunakan kartu kredit kemudian dilunasi melalui ATM. Hasilnya adalah point rewards yang sampai saat ini sudah terkumpul.
Salam
mytechie berkata,
April 1, 2008 @ 11:18 am
untung gk pake cc
ratna berkata,
April 3, 2008 @ 3:57 am
@ Tigis
Hihii.. KPR emang bikin pusing tp nanti berbuah manis kok..halah
@ sigid
Ada kemungkinan seperti itu karena kadang pihak bank juga menghire perusahaan konsultan untuk data base kartu kredit ini dan biasanya bisa terjadi perjual belikan data base customer
@ nh18
berarti “menteri keuangan”nya ga boros yach…secara biasanya emak-emak maunyabelanja terus..
@ Advokat Listiana
kalau takut ga bisa manage ya bener kata si mba ini..”jangan pakai kartu kredit”
@ Hedwig
wah berarti bener2 dah termanage denan baik yach..
secara emang ada plus dan minusnya lha…
@ mytechie
hehehe..bagus lah, berarti cukup dengan apa yg ada saja..