Maret 27, 2008
· Disimpan dalam kocek
Buat gw, krisis utang kartu kredit sungguh menakutkan. Mungkin ini salah satu dampak dari begitu mudahnya bank dan institusi menawarkan fasilitas kredit tanpa dibarengi pengertian tentang kredit untuk masyarakat. Begitu banyak orang-orang yang kebablasan menggunakan kartu kredit termasuk sering terlontar dari mulut teman-teman. Lumayan ngeri juga ngedengernya. Jadi kalau hal ini terjadi pada teman-teman gw yang mungkin hanya contoh kecil aja, siapa yg musti disalahkan?
Kalau melihat ke dalam sistemnya sih memang ada beberapa yg menjadi kelemahan sistem di Indonesia, yaitu :
Pertama, negara kita belum dilengkapi dengan sistem kredit yang memadai. Belum ada sistem credit scoring yg bisa mengkatagorikan antara peminjam sehat dengan peminjam tidak sehat. Sistem Informasi Debitur (SID) yg ada saat ini baru bisa mengecek kredit apa saja, dimana saja, dengan status terakhir. Memang sistem ini terus didevelop namun sungguh memerlukan cukup waktu sedangkan pemberian pinjaman terus berjalan tak terbendung.
Kedua, para penerbit kartu kredit bersikap masa bodoh. Yang penting persyaratan internal mereka terpenuhi. Selama SID menunjukkan status terakhir dalam keadaan baik, pinjaman atau kartu kredit lain akan mereka kabulkan. Seseorang dapat mengajukan aplikasi dan mendapatkan kartu kredit dari 20 penerbit kartu kredit yang berbeda.
Ketiga, cara memasarkan kartu kredit yang tidak etis. Kode responsible lending serasa tidak ada artinya. Cara mereka menawarkan kartu kredit semakin merendahkan intelegensia masyarakat. Coba saja perhatikan, terkadang mereka menawarkannya dengan sebutan kartu cicilan bukan kartu kredit dengan bunga kecil dan belanja bulanan yg dapat dicicil. Padahal kalau ditelaah kembali, kartu cicilan = kartu kredit. Pembodohan memang.
Dengan kelemahan-kelamahan sistem yang ada di negara kita tersebut, lantas kita menyalahkan sistem atas kebablasannya penggunaan kartu kredit? Kayaknya alasan yang tidak masuk akal deh. Semuanya kembali lagi ke pribadi masing-masing. Kalau boleh bertanya, memang ada yang memaksa untuk menandatangani aplikasi pengajuan kartu kredit? Memang ada yang memaksa untuk terus menggesek kartu kredit? Memang ada yang menyuruh untuk tidak menyisihkan gaji atau berinvestasi? Kayaknya semua jawabannya adalah TIDAK, dan diri sendirilah yang berperan. Jadi kalau sekarang kondisi keuangan jadi morat-marit karena utang, yah..salahkan diri sendiri…hehe..
Kayaknya dengan memulai introspeksi diri dalam menggunakan kartu kredit merupakan langkah awal yang tepat. Memikirkan apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan utama dan kebutuhan tambahan serta menanamkan dalam diri bahwa kartu kredit bukanlah sebagai uang tambahan tp hanya merupakan alat pembayaran saja sepertinya dapat mengerem penggunaan kartu kredit yang selama ini kebablasan.
Asal dimanage kayaknya kartu kredit bukan lah hal yang menakutkan untuk dimiliki. Bukankah begitu… 
Maret 26, 2008
· Disimpan dalam Info
Kayaknya memang sulit buat kaum lelaki untuk berkomitmen saat menjalani suatu hubungan. Terbukti hal Ini terjadi pada beberapa teman lelaki yg masih asik aja menjoblo, kayaknya kalau tidak karena tuntutan keinginan orang tua dan dijodohkan mungkin mereka masih ga kepikir untuk menikah. Sepertinya mereka cenderung menikmati masa lajang dan menunda untuk menjalin komitmen serius kearah pernikahan dengan perempuan selama mungkin.
Karena perilaku ini membuat kaum perempuan mengganggap bahwa lelaki cenderung tidak suka menjalin komitmen serius. Atau lelaki baru terpikir tentang hal tersebut saat usia telah mencapai pertengahan tiga puluh dan saatnya untuk memiliki keturunan serta mencari sosok perempuan untuk merawat mereka. Aduh kalau cuma alasan ini menyedihkan sekali ya..
Dan ternyata ada beberapa hal yang menyebabkan kaum lelaki tidak ingin terburu-buru berkomitmen : Baca entri selengkapnya »
Maret 19, 2008
· Disimpan dalam asuransi
Zaman sekarang apa sih yang murah? semuanya serba mahal termasuk meroketnya biaya kesehatan. Saat ini, orang yang berpenghasilan pas-pasan, jika masuk rumah sakit kayaknya bener-bener bikin susah. Bukan hanya sakit badannya saja tapi sakit kantong juga. Dan biasanya agar tak semakin sakit, kayaknya emang sudah perlu yang namanya asuransi kesehatan.
Untuk menyiasati hal ini, ada beberapa perusahaan asuransi yang bekerja sama dengan bank mengeluarkan produk asuransi kesehatan lewat kartu kredit, karena pembayaran preminya bisa langsung dari kartu kredit. Asuransi kesehatan ini preminya murah, lebih murah dibandingkan dengan asuransi yang selama ini ditawarkan oleh para agen asuransi, sudah begitu syaratnya enteng dan prosesnya pun lebih cepat. Dan lazimnya aturan main asuransi, semakin besar preminya, semakin besar santunannya serta semakin luas cakupan perlindungannya. Disamping itu pula, asuransi ini tidak mensyaratkan surat keterangan dokter atas riwayat penyakit. Nasabah umumnya juga punya waktu 20 sampai 25 hari tiap bulan untuk membayar premi yang tidak begitu besar itu (premi kurang dari Rp 100.000). Ini jelas lebih ringan dibandingkan asuransi individu yang umumnya mewajibkan pembayaran sekaligus. Jadi sepertinya asuransi melalui kartu kredit ini murah dan fleksibel sehingga cocok untuk orang yang tidak punya dana yang cukup besar. Baca entri selengkapnya »
Maret 14, 2008
· Disimpan dalam curhat
Dari dulu perempuan Indonesia pencaya bahwa untuk menjadi sosok perempuan yang baik berarti ia harus bertindak submisif, melayani dan berdiri dibelakang pasangannya selaku pemimpin dalam keluarga. Dan surprise-nya, mereka senang melakukan hal itu karena selain karena tuntuan sosial, juga ingin menyenangkan pasangannya.
Namun, perkembangan jaman tidak bisa dielakkan. Seiring dengan perkembangan itu, peran perempuan indonesia menjadi berubah. Perempuan Indonesia menjadi lebih mandiri dan memiliki lebih banyak alternatif untuk lebih berani memulai perubahan dalam hidup dan hubungannya bersama pasangan ke arah yang lebih positif. Perempuan Indonesia juga menjadi ingin lebih diapresiasi sebagai individu, tidak hanya sekedar melayani namun juga merambah peran berbagi. Dari semula yang hanya mengandalkan persetujuan suami meningkat menjadi persetujuan bersama, atau dari sekedar menjadi ibu kini menjadi sosok yang lebih mandiri dan punya jati diri, yaitu perempuan.
Seiring dengan kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan tinggi, Perempuan Indonesia menjadi lebih memiliki bargaining position yang hampir sama dengan kaum lelaki didunia pekerjaan. Baik dari posisi di kantor juga dari sisi penghasilan yang didapat. Jadi sepertinya sudah layak jika perempuan kini lebih dihargai dan diakui keberadaannya sebagai individu, bukan hanya sebagai istri atau Ibu.
Bentuk penghargaan tersebut salah satunya dengan memberikan kesempatan perempuan untuk memulai berkomunikasi dengan pasangan demi menjadikan hubungan lebih berkualitas. Terkadang memang lebih sulit bagi perempuan untuk berkomunikasi dengan pasangan dibandingkan dengan oranglain. Namun hal ini harus dihilangkan, justru dengan pasanganlah perempuan seharusnya dapat lebih nyaman mengekspresikan diri. Jika kecanggungan, rasa tidak enak terhadap pasangan hilang, biasanya akan menghindarkan pencarian orang lain untuk mendengarkan keluh kesah kita.
Sepertinya, untuk memecah kebuntuan komunikasi dengan pasangan, sebaiknya masing-masing berusaha untuk berlatih mengungkapkan segala perasaan, keinginan, dan ketidaknyamanan pada pasangan. Bila masih ragu atau malah takut, sepertinya dengan menulis surat juga menjadi solusinya. Yah, anggaplah seperti surat cinta ketika pacaran dulu. Atau dengan berkirim email dan sms bisa jadi mediasi juga. Atau dengan mempunyai blog mungkin ya…bisa jadi ajang berlatih mengekspresikan diri 
Maret 12, 2008
· Disimpan dalam seks
Jaman sekarang gitu, informasi apapun udah gampang sekali didapatkan temasuk soal seks. So, kayaknya aneh kalau masih ada yang tidak tahu tentang seks. Walaupun demikian, pasti saja ada, yang biasanya dialami oleh orang yang memiliki kecenderungan menutup dirinya dari informasi dan pendidikan seks.
Pemahaman akan pendidikan seks sangan diperlukan. Tak hanya persoalan seputar seks yang “menyenangkan”, namun demikian pula dengan sisi negatifnya. Selain untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pendidikan seks memberi pengetahuan kepada mereka yang kurang banyak bergaul. Ketidaktahuan tentang masalah seks hingga sekarang tetap merupakan persoalan besar dan termanifestasi dalam berbagai bentuk.
Untuk yang pengantin baru, seks pada malam pertama bagi pasangan yang buta akan pengetahuan tentang itu akan mengalami sebuah malam yang terasa “menyakitkan” tanpa ada kenangan menyenangkan sama sekali. Salah satunya mungkin serba canggung dan bingung ketika memasuki kamar pengantin. Waduh, kayaknya rugi banget yach.. klo gitu sih mending ga usah nikah aja
Pengetahuan seks juga diperlukan untuk yang sudah lama menikah, karena mewujudkan suatu hubungan seksual yang sehat dan menggairahkan bukanlah hal yang mudah. Tanpa adanya pengetahuan tentang seks, sangat sulit sebuah hubungan seksual bisa berjalan serta bertahan dengan mantap. Masalah yang terjadi biasanya mulai dari kebosanan, frigiditas dan bahkan hingga berakhir pada perpisahan.
Kurangnya informasi mengenai maslah seksual tentu saja bisa mengakibatkan kesalahpahaman yang dikhawatirkan akan berakibat buruk bagi kelangsungan cinta. Hal ini pulalah yang akan menjadi penyebab menurunnya gairah seksual dalam rumah tangga.
Meskipun seks bukanlah inti dari sebuah pernikahan, para pakar menyebutkan, bahwa sesungguhnya pendidikan seks dapat mengatasi berbagai masalah lain yang sering menjadi akar persoalan yang mengganggu kebahagiaan perkawinan. Untuk itulah pendidikan seks formal dan non-formal sangat dibutuhkan untuk mengetahui nilai-nilai yang ada di dalamnya, baik yang positif ataupun efek negatif jika seks dilakukan dengan tidak benar dan tidak pada tempatnya.
Jadi, kayaknya ga masalah kan kalau kita mengetahui seputar seks meskipun belum diperlukan untuk dipraktekan saat ini
toh ngobrolin seks itu menyenangkan kok (*dasar emak-emak)