Penghasilan udah tinggi, tapi kok masih kurang sih…??? kita sudah jadi orang kaya blom ya..???
Ternyata, “berpenghasilan tinggi” tidak sama dengan “jadi kaya”. (nah lho…!!)
Orang yang berpenghasilan tinggi belum tentu kaya.
Katanya, definisi kaya (rich) adalah seberapa banyak yang bisa kita sisihkan atau simpan untuk membangun aset produktif dari gaji atau penghasilan kita. Sedangkan arti “orang berpenghasilan tinggi” adalah aliran uang masuk orang tersebut, setiap bulannya besar.
Kaya berkaitan dengan seberapa banyak aset (produktif) yang bisa kita bangun dari penghasilan atau gaji kita sebagai karyawan. Sedangkan berpenghasilan tinggi cuma menggambarkan cash-in-flow. Berpenghasilan tinggi tidak menjamin ornag menjadi kaya. Kalau cara hidupnya boros-yakni lebih mementingkan keinginan daripada memenuhi kebutuhan-maka neracanya di akhir bulan akan selalu besar pasak daripada tiang.
Safir Senduk, dalam bukunya : Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya (2005), menasihatkan lima kiat praktis agar seorang karyawan bisa jadi kaya, yakni :
Beli dan miliki sebanyak mungkin harta produktif
Atur pengeluaran Anda
Hati-hati dengan utang
Sisihkan untuk masa depan
Miliki proteksi
Katanya, ada empat jenis harta yang disebut sebagai harta produktif (bisa memberikan penghasilan) :
Produk investasi
Produk ini memberikan bunga dan jumlah nominal uang yang diinvestasikan tidak berkurang. Misalnya deposito di bank.
Bisnis
Banyak orang bisa menyisihkan gaji untuk modal, tapi masih saja takut mulai. Saran : mulai saja karena kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah bisnis bisa berjalan tanpa memulainya. Dan tidak semua bisnis perlu modal besar. Kalau kendalanya waktu, maka jangan melakukan saat jam kerja dan jangan memulainya dengan bermitra atau menyerahkan pengelolaannya kepada orang lain atau kerabatnya. Dan pastikan jenis bisnisnya tidak ada benturan kepentingan (confilct of interest) dengan kantor kita sekarang.
Harta yang disewakan
Harta atau aset konsumtif yang bila disewakan bisa menghasilakan uang dapat disebut harta produktif. Rumah, mobil, motor adalah harta yang lazim disewakan.
Barang Ciptaan (royalti)
contohnya : menulis buku, merilis album lagu, penemuan-penemuan ilmiah, dll, tapi jangan lupa untuk mengurus patennya.
Katanya lagi, setelah itu, atur dan kendalikan pos-pos pengeluaran. Artinya matang dalam perencanaan dan dewasa dalam belanja anggaran. Dahulukan “kebutuhan” (needs) di atas “keinginan” (wants).
Ada prioritas pengeluaran. Safir Senduk membaginya dalam tiga kelompok pengeluaran: biaya hidup, cicilan utang, dan premi asuransi. Dari ketiganya, yang mesti didahulukan adalah cicilan utang, bukan biaya hidup. Prioritas kedua, premi asuransi, baru di urutan ketiga pengeluaran untuk biaya hidup.
Jadi, katanya hati-hati dengan utang, lindungi masa depan dan atur gaya hidup sesuai dengan anggaran.
Kalaupun mesti berutang, ada tiga pedoman yang bisa membuat kita boleh berutang :
Ketika utang itu akan digunakan untuk sesuatu yang produktif.
Ketika utang itu dibelikan barang yang nilainya hampir pasti akan naik.
Ketika kita tidak punya uang tunai untuk membeli barang atau jasa yang sungguh dibutuhkan, walaupun nilai barang itu menurun atau bahkan hanya sekali pakai.
Pedoman umum untuk besaran cicilan utang (misal : kredit rumah, mobil, kartu kredit), usahakan tidak melebihi 30% dari gaji yang diterima setiap bulan.
Untuk pos pengeluaran masa depan, paling tidak ada lima yang perlu disiapkan, yakni pendidikan anak, pensiun, properti dan kepemilikan lainnya, bisnis, dan terakhir liburan serta perjalanan ibadah.
Akhirnya, milikilah proteksi. Bentuknya: Asuransi, dana cadangan untuk kebutuhan darurat, dan sumber penghasilan di luar gaji. Yang terakhir ini kalau bisa didapat secara terus-menerus dari hasil investasi kita.
Prinsipnya, sejak sekarang bangun sebanyak mungkin aset produktif. Jadilah seorang karyawan yang profesional tapi juga sekaligus “orang kaya”.
Jadi…Bersiaplah untuk sukses.
Cale9 berkata,
Januari 14, 2009 @ 8:31 am
Gimna orang nya karna unsur psikologis sangat berpengruh juga..,klo orang nya emng boros gak bisa atur keuangan nya sendiri mau apa lagi..,memang terkadang orang yanng berpenghasilan tinggi ,belum tentu kaya karena menurut saya orang kaYA adalh orang yang punya naluri bisnis yang tangguh…,sehingga tidak lekang dengan waktu ataupun jaman…dalam kondisi apaun..,& mampu melihat kebutuhan “pasar” …,sehingga usaha nya tetap berjalan.Tntunya orang kaya adlah “the simple life”…,tpi tetap terlihan elegan dan berwibawa.Jdi selain itu spekulasi ataupun prospek melihat hari depan sangt perlu untuk mnyokong semangat nya ..,mnjad lebih perfect
ali berkata,
Februari 16, 2009 @ 11:41 am
kirimkan
uci berkata,
April 29, 2009 @ 8:19 pm
yak!
Aku lah… nyang pengin jadi “The Have”
Do’a kan aq ya! aq mau mulai nguthank nich… tapi kn katanya bole kalo buat yang produktif mah… hue hue hue
mudah2an nda ketipu again and again, ho ho ho